Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Indonesia mendorong pelaku industri nasional untuk memperluas pasar ekspor ke Angola, terutama alat transportasi dan pertahanan serta elektronika. Tujuannya memacu kontribusi sektor nonmigas terhadap nilai perdagangan kedua negara yang berkisar 292,8 juta dolar AS tahun lalu.
    “Angola bisa menjadi negara pusat untuk promosi produk-produk industri Indonesia ke pesisir barat Afrika,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto usai menerima Menteri Luar Negeri Angola Georges Rebelo Pinto Chikoti beserta delegasi di Jakarta, Rabu.
    Airlangga, melalui keterangan tertulis, menjelaskan bahwa dalam pertemuan bilateral itu kedua belah pihak saling memberikan informasi mengenai regulasi teknis serta mendalami sektor-sektor potensial di bidang investasi industri.

    “Nantinya, kami berharap adanya komitmen kerja sama yang komprehensif dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi masing-masing negara,” ujarnya.
    Pemerintah Indonesia telah menawarkan beberapa produk industri strategis nasional, antara lain pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia (DI), kendaraan angkut militer buatan PT Pindad, kapal laut buatan PT PAL dan gerbong kereta dari PT INKA.
    Bahkan, Menlu Angola berencana mengunjungi secara langsung PT DI dan PT Pindad untuk menjajaki peluang kerja sama yang dapat dikembangkan. “Mereka sempat menanyakan cara pembelian pesawat dari Indonesia,” tutur Airlangga.
    Di samping itu, Angola tengah memerlukan bantuan pelatihan di bidang industri seperti yang dilakukan Indonesia kepada Nigeria dan Mozambique. Misalnya, pelatihan untuk peningkatan kapasitas produksi sektor tekstil dan makanan.

    Selanjutnya, Indonesia membuka peluang kerja sama di sektor industri kecil dan menengah (IKM). Apalagi, Kemenperin sedang mendongkrak pasar ekspor bagi produk IKM dalam negeri, salah satunya dengan memanfaatkan program e-smart IKM.
    Hubungan diplomatik kedua negara telah dibuka sejak 2001 dan Angola merupakan mitra dagang Indonesia terbesar ke-3 di kawasan Afrika sub-Sahara setelah Afrika Selatan dan Nigeria.
    Komoditas impor Indonesia dari Angola adalah minyak dan gas bumi, sementara produk ekspor Indonesia adalah pipa besi, sabun, seng, korek api, kendaraan, margarin, ikan olahan, obat, kertas dan minyak sawit.
    Sumber: Antara

    London – Indonesia mendorong kerja sama internasional di bidang keantariksaan di antaranya berupa pertukaran tenaga ahli, “capacity building” maupun pelatihan program pembangunan yang menyentuh kepentingan rakyat.
    Hal itu disampaikan Dubes RI di Wina, Dr Darmansjah Djumala selaku Wakil Tetap RI yang terakreditasi pada PBB di Wina, demikian keterangan KBRI Wina yang dilansir ANTARA, 14/6/2017.
    Disebutkan kerja sama internasional yang bersifat inklusif dan berkelanjutan dalam kegiatan keantariksaan penting untuk terus didorong dan dikembangkan.
    Hal tersebut akan mendukung peningkatan kapasitas nasional di bidang keantariksaan yang semakin maju dan berkembang cepat dewasa ini.
    Indonesia mengirim delegasi pada “United Nations Office for Outer Space Affairs” (UNOOSA) dalam Sidang ke-60 Komite PBB bagi Penggunaan Antariksa untuk Tujuan Damai (The United Nations Committee on The Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS) di Wina, Austria, 7-16 Juni 2017.
    Pada pertemuan tersebut delegasi RI dipimpin Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Dr Thomas Djamaluddin.
    Pada sesi debat umum, Ketua Delegasi RI menyampaikan pernyataan nasional yang menekankan pentingnya kerja sama internasional yang inklusif dan berkelanjutan tersebut untuk mendukung peningkatan kapasitas di bidang teknologi keantariksaan, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga bagi negara-negara berkembang.
    Di forum PBB tersebut, Indonesia menyampaikan pula mengenai perlunya pengaturan kegiatan keantariksaan, khususnya yang terkait dengan dua aspek utama, yaitu isu definisi dan delimitasi antariksa serta isu pemanfaatan “geostationary orbit” (GSO) secara adil dan tetap mengutamakan penghormatan atas kedaulatan dan integritas negara.
    GSO perlu diatur dalam suatu rezim hukum khusus, namun tetap memperhatikan kepentingan negara khususnya negara berkembang dan negara dengan letak geografi khusus, seperti negara-negara yang berada di kawasan garis khatulistiwa.
    Indonesia berkepentingan terhadap pengaturan yang adil mengenai pemanfaatan GSO ini mengingat letak Indonesia sebagai salah satu negara yang berada di garis khatulistiwa.
    Karena itu, peningkatan kapasitas dan pelatihan bagi para ahli keantariksaan menjadi amat penting bagi Indonesia melalui kerangka kerja sama internasional yang inklusif dan berkelanjutan guna dapat mengambil dan mengelola secara maksimal manfaat dari posisi strategis Indonesia tersebut, ujar Dubes Djumala.
    Selain itu, Indonesia berpandangan bahwa kesepakatan negara-negara mengenai definisi dan delimitasi antariksa merupakan salah satu agenda prioritas yang perlu didorong melalui forum UNCOPUOS, sehingga dasar hukum untuk pengaturan wilayah kedaulatan antariksa dapat ditetapkan.
    Hal ini akan mendukung Rencana Induk Keantariksaan 2016-2040 yang baru-baru ini disahkan melalui Keppres Nomor 45 Tahun 2017 dan telah menjadi pijakan kuat bagi LAPAN dalam penyelenggaraan aktivitas keantariksaan.
    Pertemuan ke-60 UNCOPUOS dipimpin Mr David Kendall (Kanada) dan dihadiri lebih dari 200 delegasi negara-negara anggota dan peninjau pada UNCOPUOS.
    Pada pertemuan sesi ke-60 ini dilakukan pula serangkaian pertemuan untuk melanjutkan pembahasan pedoman kegiatan keantarikasaan secara berkelanjutan (draft guidelines on long terms sustainability of outer space activites/LTS) yang diharapkan dapat segera disepakati.
    UNCOPUOS dibentuk tahun 1959 sebagai forum multilateral dalam mendorong penelitian, pertukaran informasi serta perkembangan iptek dan hukum internasional di bidang keantariksaan. UNCOPUOS pada saat ini beranggotakan 84 negara anggota PBB.
    Indonesia telah menjadi anggota pada forum tersebut sejak tahun 1973 dan senantiasa aktif antara lain dengan menyuarakan perlunya dorongan pengembangan kapasitas melalui bantuan teknis bagi negara-negara berkembang guna menjembatani jurang teknologi keantariksaan antara negara maju dan negara berkembang.

    Departemen Pertahanan Amerika Serikat mengumumkan bahwa Raytheon telah mendapatkan kontrak lebih dari 82 juta dolar AS untuk menghasilkan rudal udara-ke-udara AIM-9X Sidewinder beserta peralatan pendukungnya. Persenjataan tersebut akan diberikan kepada Angkatan Laut Amerika Serikat, Polandia, Rumania, Belgia dan Indonesia.
    “Raytheon Co., Missile Systems, Tucson, Arizona, mendapatkan 82.818.665 dolar AS untuk kontrak yang telah diberikan sebelumnya dalam pengadaan 180 AIM-9X Block II proyektif produksi all-up-round taktis penuh lot 17 Lot untuk Angkatan Udara (52) , Angkatan Laut (8), dan pemerintah Polandia (93); Indonesia (14); Romania (10); dan Belgia (3),” rilis Departemen Pertahanan pada Rabu.


    Berdasarkan ketentuan kontrak, Raytheon juga harus menyediakan peralatan pendukung untuk memasukkan missile containers, rudal pelatihan udara, unit bimbingan dan suku cadang.
    Pemberian rudal ke empat negara itu merupakan bagian dari penjualan militer asing yang disetujui oleh Amerika Serikat.
    Sidewinder merupakan rudal udara-ke-udara jarak pendek inframerah. Rudal tersebut dibawa oleh pesawat F-15 dan F-16 Angkatan Udara Amerika Serikat, dan F-18 Angkatan Laut Amerika Serikat, serta juga digunakan oleh angkatan udara 18 negara asing.
    Sumber: Sputnik News

    Disadari atau tidak, perseteruan dalam gelaran politik elektoral Ibu Kota telah menyisakan warisan paradigmatik yang berseberangan satu sama lain. Bahkan pada titik tertentu, dua kutub yang berlawanan tersebut seolah tak lagi mau bertemu meski asas keduanya sebagai bangsa adalah satu, yaitu Pancasila.

    Pertanyaan yang muncul kemudian, bila asas kedua kutub yang berseteru di atas adalah sama-sama Pancasila, mengapa tak bisa lagi menyisakan ruang untuk bertemu? Atau jangan-jangan Pancasila tak lagi dijadikan asas dalam berbangsa dan bernegara? Bila benar demikian, maka momentum peringatan hari lahirnya Pancasila tahun ini patut menjadi sajadah sebagai alas bersemedi untuk kembali menenun kebinekaan yang mulai terkoyak akhir-akhir ini.

    Segala sumpah serapah yang terekam selama hajatan politik elektoral Ibu Kota, kini mulai terasa dimuntahkan ke segala penjuru negeri. Sentimen keagamaan dan politik identitas semakin diperuncing, situasi ekonomik dan politik dalam negeri yang tengah berproses membangun diri dihadapi dengan rasa frustasi. Jelas sudah, Indonesia sebagai bangsa yang berbeda-beda tapi satu kesatuan tengah menjadi taruhan. Tak terkecuali di desa, kita berharap desa menjadi ruang konsolidasi perekat pancasila.

    Berpijak dari situasi di atas, Surat Edaran Menteri Desa,Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo Nomor: 1 Tahun 2017 tentang Peringatan Hari Lahir Pancasila, yang ditujukan kepada Kepala Desa Seluruh Indonesia, menjadi penanda betapa pentingnya kita kembali memperingati hari lahirnya Pancasila ditengah masyarakat desa-desa seluruh Indonesia.

    Manifes Ibadah dalam ber-Pancasila

    Tentu saja Surat Edaran Mendes PDTT di atas bila sekadar dijalankan sebatas seremonial, maka tak akan berdampak apa-apa bagi penguatan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Lain hal, bila momentum peringatan Harlah Pancasila di desa tahun ini, dimaknai sebagai pengingat kembali terhadap pijakan bersama kita sebagai bangsa yang bernegara kesatuan Republik Indonesia.

    Sebagaimana kita mafhum bersama, peringatan Harlah Pancasila kali ini, bersamaan dengan datangnya bulan Ramadhan, yang bagi umat Islam ber aqil baligh diwajibkan menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Dan bukan sesuatu yang kebetulan, jika kita nyatakan bahwa "suasana Ramadhan" hanya terasa nikmat dan indahnya bila kita menjalankanya di desa-desa.

    Persis dalam konteks ini, kondisi kebangsaan serta kebinekaan yang tengah terancam oleh gerakan yang ingin mengganti ideologi negara, maka ikhitiar yang berorientasikan memperkokoh kembali landasan berbangsa dan bernegara melalui desa-desa menjadi sesuatu yang juga harus dilakukan.

    Ingin ditegaskan, bahwa mempertahankan Pancasila sebagai dasar kita dalam berbangsa dan bernegara, sama "utamanya" seperti "utamanya" umat islam berpuasa di bulan Ramadhan. Pembeda keduanya hanyalah pada relasi yang terjalin. Berpuasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang bersifat personal, sementara mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara adalah ibadah yang bersifat komunal karena menyangkut kelangsungan hidup kita sebagai bangsa Indonesia.

    Penulis termasuk yang memiliki keyakinan bahwa tak ada yang perlu dipertentangkan antara Pancasila dan agama (baca: Islam). Bukankah dalam banyak hal, sabda-sabda Tuhan yang termaktub dalam al-Quran al-Karim telah memberikan justifikasinya terhadap Pancasila. Dengan kata lain, menegakkan Pancasila sama saja dengan menegakkan ayat-ayat suci di bumi pertiwi yang kita cintai ini.

    Beberapa sabda Tuhan sudah sangat jelas memberikan justifikasi pada setiap butir-butir Pancasila. Seperti yang tersurat dalam sabda-Nya, "Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa" (QS. Al-Ikhlas: 1) berkesesuaian dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. "Maka jangalah kamu mengikuti hawa nafsu, hendaklah kamu menjadi manusia yang adil", (QS. An-Nisa: 135) memiliki korelasi dengan sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

    Sila ketiga yang berbunyi, "Persatuan Indonesia" berkorelasi dengan firman Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 yang artinya, "Dan kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal". Sila keempat berbunyi, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawatan/Perwakilan, mendapatkan justifikasi dalam QS. Asy-Syuro ayat 38 yang artinya, "Sedangkan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka". Sedangkan sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, berkesinambungan dengan firman-Nya dalam QS. An-Nahl ayat 90 yang artinya, "Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan".

    Munajat Pancasila

    Selain keutamaan kita berpuasa di bulan ramadhan, dalam momentum peringatan Harlah Pancasila ini, penulis juga berpandangan bahwa ketika kita merapalkan Pancasila tak ubahnya ibarat kita sedang bermunajat dengan sepenuh hati seperti kita sedang menjalankan ibadah shalat. Dengan kata yang lebih gamblang, Pancasila itu ibarat shalat beserta keseluruhan geraknya.

    Betapa tidak, karena Pancasila bagi penulis, haruslah berdiri tegak, setegak takbiratul-Ihram, berteguh pada ketauhidan, sebagaimana sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Pancasila haruslah bergerak lurus, selurus gerak ruku' dalam membangun horison keadilan dan solidaritas sosial, sebagaimana sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Pancasila harus bergerak berdiri lurus dalam satu tarikan nafas, laiknya gerak i'tidal dalam menyatukan langkah dan gerak solidaritas politik yang mengedepankan kepentingan nasional, sebagaimana sila ketiga: Persatuan Indonesia.

    Penulis juga meyakini bahwa Pancasila harus merunduk sujud menuju tempat terendah, bersimpuh dengan segala kerendahan hati dalam menata kebijaksanaan kerakyatan dan kehambaan sekaligus, sebagaimana sila keempat: Kerakayatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

    Pancasila juga harus tetap berpijak dan beralas tanah, semabri duduk luruh merapat dengan bumi, layaknya gerak tahiyyat yang bersabar untuk bisa tumbuh subur bersama rakyat karena tugas mulia seorang khalifah adalah menabur keadilan sosial, sebagaimana sila kelima: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

    Demikianlah, karena ibadah shalat adalah keseluruhan gerak, maka ketika ada satu rangkaian gerak tidak terlaksana, hanya akan membatalkan shalat itu sendiri. Demikian pula kita dalam ber-Pancasila, bila ada sila yang terlewat, maka "batal" pula kita ber-Pancasila. Pada fase sejarah hari ini, sebagai generasi yang sedang dan akan terus menegakkan berdirinya Pancasila, sejatinya kita laksanakan seperti kita mendirikan salat dalam keseharian kita. Kita berharap dari desa-desa munajat pancasila terus menerus menggema. Merdesa!


    Penulis adalah staf khusus Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi

    Beredarnya video bikinan tim “da’wah” Ustadz Khalid Basalamah benar-benar sangat berhasil membuat saya -wong ndeso ini- merangkai tulisan-tulisan yang saya dedikasikan buat tim beliau agar dibaca.

    Bukan karena saya lebih bisa, karena ternyata Ustadz Khalid lebih terkenal daripada saya.
    Bukan karena saya banyak tahu, tapi karena saya ingin meluruskan orang-orang yang sok tahu.
    Terlebih dalam video itu ada sosok Kiai yang kami -para santri- sangat kagumi dan sangat hormati. KH. Maimun Zubair. Juga sosok santri dan situasi pesantren.

    Baik Tim Ustadz Khalid,
    Ketika santri berebut mencium tangan Kiai, mereka berharap berkah dari beliau. Apakah itu salah?
    Sama sekali tidak. At-Tabarruk atau berharap berkah artinya : berharap tambah dan berlipatnya nilai ibadah. Bertabarruk bukan menyembah. Pahami itu.

    Dalam Al Qur’an, konsep tabarruk telah ada, seperti tertuang dalam :
    Surat Al Baqoroh ayat 125 :
    وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
    “Kenapa sholat di Maqam Ibrahim?” Ini ada unsur tabarruk.
    dan Surat Yusuf ayat 93 dan 96
    اذْهَبُواْ بِقَمِيصِي هَذَا فَأَلْقُوهُ عَلَى وَجْهِ أَبِي يَأْتِ بَصِيرًا
    فَلَمَّا أَن جَاء الْبَشِيرُ أَلْقَاهُ عَلَى وَجْهِهِ فَارْتَدَّ بَصِيرًا
    “Kenapa baju Nabi Yusuf yang dijadikan sebagai pelantara kesembuhan Mata Nabi Ya’qub?” Ini juga Tabarruk.
    Dalam Hadits Rasulullah Riwayat Muslim (1305) konsep tabarruk tertuang ketika Rasulullah membiarkan rambut mulianya dimiliki oleh para sahabat.
    عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَتَى مِنًى فَأَتَى الْجَمْرَةَ فَرَمَاهَا ثُمَّ أَتَى مَنْزِلَهُ بِمِنًى وَنَحَرَ ثُمَّ قَالَ لِلْحَلاَّقِ « خُذْ ». وَأَشَارَ إِلَى جَانِبِهِ الأَيْمَنِ ثُمَّ الأَيْسَرِ ثُمَّ جَعَلَ يُعْطِيهِ النَّاسَ.
    “Kenapa Rasulullah membiarkan rambut beliau dibagi-bagikan kepada para sahabat?” Karena Beliau meridloi tabarruk.

    Kenapa ketika perang Yarmuk, Kholid bingung mencari pecinya padahal bisa saja ia memakai peci yang lain atau peci apa saja? Karena dalam pecinya ada rambut Rasulullah yang beliau cukur saat berumroh, dan tidak ada satupun peperangan yang ia hadiri dengan memakai peci itu kecuali Allah memberikan kemenangan kepada umat islam. Inilah tabarruk...

    Ada sebuah sumur di Madinah yang bernama sumur Bidla’ah. Nabi pernah meludahi air dalam sumur ini, sehingga setiap melewati sumur ini, Muslimin hampir pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meminum airnya. Tabarruk juga ini namanya.
    (Majma’ Az Zawa’id Wa Manba’ Al Fawa’id, Nuruddin Ali bin Abi Bakar Al Haitsamy)

    Belum lagi riwayat Imam Bukhari tentang bagaimana para sahabat ketika tangannya berhasil menangkap dahak Rasulullah, ia mengusapkan keseluruh tubuhnya. Ketika Rasulullah berwudlu, para sahabat hampir seperti akan berperang hanya karena berebut sisa air wudlu Beliau. Semua itu dalam konsep Tabarruk bukan?
    Mungkin kalian akan berkata : “Ah,,,, itukan kepada Rasulullah. Kalau selain Rasulullah beda dong...? gak boleh dong...?
    Oke, coba perhatikan yang berikut :
    Seorang Abdurrahman bin Razin (Tabi’in) bergegas mencium tangan Sahabat Salamah bin Akwa’ berharap keberkahan dari tangan yang pernah bersentuhan dengan Rasulullah.
    Begitu pula alasan Tsabit Al-Bunani (Tabi’in), ketika ia mencium tangan Sahabat Anas bin Malik setelah bertanya : “Apakah engkau menyentuh Rasulullah dengan tangan ini?” dan Sahabat Anas menjawab : “Ya”.
    Abu Aliyah, seorang ulama Salaf, mencium dan mengusap-usapkan apel pemberian sahabat Anas karena menganggap apel itu telah dipegang oleh tangan yang pernah menyentuh Rasulullah.
    Semua dengan alasan tabarruk lo...
    Kalian akan membantah lagi : “Loh,,, itu kan masih ada hubungannya dengan Rasulullah. Pasti beda dong kalau tanpa ada hubungannya dengan beliau”

    Eits... jangan ambil kesimpulan terbu-buru dong, emang terbiasa begitu kalian ya.... Perhatikan yang berikut ini dulu :
    Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah pernah mencium tangan dan kedua kaki pamannya Sahabat Abbas.
    Ketika bertemu, Imam Muslim mencium wajah gurunya -Imam Bukhari- diantara kedua mata beliau, lalu meminta restu agar beliau dapat mencium kedua kaki gurunya itu.
    Apa alasannya, tabarruk...
    Bahkan, Rasulullah pernah bertabarruk kepada kaum muslimin.

    Dalam sebuah kitab yang bernama Al Jami’ As Shoghir Wa Ziyadatih (Al Fath Al Kabir) yang ditulis oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani (pasti kalian kenal dong beliau itu siapa) tertulis sebagai berikut :
    "كان يبعث إلى المطاهر فيؤتى بالماء فيشربه , يرجو بركة أيدي المسلمين"
    Bahwa Rasulullah meminum air dari tempat bersucinya para muslimin seraya berharap keberkahan mereka.

    Disebuah kesempatan Rasulullah jelas tidak suka para sahabat mengambil air dari sumur Kaum Tsamud lalu memerintahkan mereka mengambil air dari sumur yang pernah diminum airnya oleh unta Nabi Sholeh. Hal ini tertuang dalam Hadits berikut :
    عَنْ نَافِعٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ أَخْبَرَهُ أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى الْحِجْرِ أَرْضِ ثَمُودَ فَاسْتَقَوْا مِنْ آبَارِهَا وَعَجَنُوا بِهِ الْعَجِينَ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا وَيَعْلِفُوا الإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنَ الْبِئْرِ الَّتِى كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ.
    Jadi, saudaraku sesama muslim, tim da’wah Ustadz Khalid yang terhormat,
    Bertabarruk itu boleh kok, bertabarruk itu dianjurkan kok. Jadi kalau kalian tidak menemukan referensi tentang itu, please deh, jangan terus kalian anggap amaliah kami salah, syirik dan lain sebagainya. Kami lo memaklumi kalau kalian begitu dibatasi dengan literasi dan pemahaman yang mudah dan instan tanpa penggalian lebih dalam ala santri, karena kalian tidak akan mampu seperti santri yang mau mengenyam pendidikan lebih lama guna bertafaqquh fid diin.

    Oh iya, ada ya kopi sampai bernilai jual tinggi karena ada unsur tabarruk?
    Kalau ada, emang kalian gak setuju ya?
    Lalu....
    Kenapa ya, di Negeri Wahabi ada sebuah gedung mewah dan megah yang didedikasikan untuk Syekh Utsaimin dan bahkan menganggap “keramat” pena yang terakhir beliau pakai sebelum beliau meninggal lalu menyimpannya dengan sistem keamanan tinggi bak menyimpan berlian bernilai triliunan rupiah?
    Hmmmm... sudahlah, emang kalian begitu sih.

    Ada satu lagi, pesan Ustadz Khalid Basalamah agar tidak meminum air sisa minumannya dan tidak mencium tangannya ketika bertemu, dengan senang hati akan kami jalankan. Karena, kriteria orang-orang yang pantas dicium tangannya dan diminum air sisa minumannya -sangat kebetulan- tidak terdapat pada diri beliau. Jadi jangan khawatir, tanpa dimintapun, kami tak akan melakukannya.

    Wallahu A'lamu Bis Showab.

    H. Abdul Aziz. AR
    Alumni PP. Al Islah (Daerah Y) Sidogiri Pasuruan.
    Alumni PP. AL Falah Ploso Mojo Kediri.
    Anggota Team Kiswah Aswaja NU Center PCNU Bangil.

    Moskow - Dubes RI untuk Rusia Djauhari Oratmangun turut hadir dalam peresmian Masjid Agung Moskow. Djauhari pun terharu ketika video Presiden Pertama RI Sukarno saat mengunjungi masjid tersbut diputar.

    "Saya sangat terharu dan bangga karena tadi selama sekitar 15 (menit) sempat diputar film kunjungan Presiden Sukarno ke masjid ini. Semua hadirin termasuk Presiden Putin juga menyaksikan tayangan tersebut," tutur Djauhari lewat keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (24/9/2015).

    Dubes RI untuk Moskow Djauhari Oratmangun bersalaman dengan ulama Rusia (dok. KBRI Moskow).

    Masjid tersebut memang sudah berdiri sejak tahun 1904. Kedatangan Sukarno ke Rusia saat itu pada tahun 1959. Panitia acara secara resmi memutarkan video tersebut yang juga disiarkan ke seluruh warga Rusia.

    "Hal ini membuktikan bahwa jejak-jejak Presiden Suakrno ternyata masih ada dan dihargai di sini," ujar Dubes Djauhari.
    Djauhari mendapat undangan untuk menghadiri peresmian (dok. KBRI Moskow).


    Pada tahun 2011 masjid itu dirobohkan karena hanya mampu menampung 2.000 jamaah. Kini masjid nan megah itu dapat menampung 10.000 jamaah.

    Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Presiden Palestina Mahmoud Abbas meresmikan Masjid ini. Seluruh pembangunan masjid yang disebut terbesar di Eropa ini dibiayai donatur.
    Putin berpidato (dok. KBRI Moskow)

    ,

    KOMPAS.com — Global Firepower (GFP) adalah sebuah situs yang menyediakan analisis kekuatan militer sebagian besar negara di dunia. Situs ini memberi informasi 100 negara dengan militer terkuat dengan basis 50 faktor berbeda.

    Faktor-faktor yang digunakan untuk menilai kekuatan militer sebuah negara ialah seperti jumlah penduduk, usia warga yang bisa menjadi personel militer, anggaran militer, jumlah peralatan militer, konsumsi BBM, utang luar negeri, dan banyak pengukur lainnya.

    Misalnya, jumlah populasi sebuah negara menjadi awal penilaian daftar ini. Secara umum, semakin besar populasi sebuah negara, kekuatan militer negara itu akan semakin besar.

    Agar penilaian ini adil, kapabilitas sebuah negara mengembangkan dan memiliki persenjataan nuklir tidak menjadi faktor penilai. Semua penilaian menunjukkan kemampuan militer sebuah negara jika terjadi perang konvensional baik perang darat, udara, maupun laut.

    Setelah melakukan analisis menggunakan 50 basis penilaian itu, GFP menentukan, untuk 2015, negara dengan militer terkuat di dunia masih dipegang Amerika Serikat, diikuti Rusia dan China di peringkat kedua dan ketiga.

    Sementara itu, India dan Inggris menduduki peringkat keempat dan kelima negara-negara dunia dengan militer paling mumpuni. Negara Asia lain yang menduduki posisi 10 besar adalah Korea Selatan di peringkat ketujuh dan Jepang di peringkat kesembilan.

    Lalu, di mana posisi Indonesia? Dengan 50 basis penilaian yang sangat ketat itu, GFP menempatkan Indonesia menjadi negara dengan militer terkuat ke-12 di dunia.

    Posisi Indonesia ini tepat di bawah Israel (11) dan di atas Australia (13). Dengan posisi ini, Indonesia juga lebih kuat dibanding beberapa negara Eropa, seperti Polandia, Ceko, atau Denmark.

    Arti lain dari posisi ke-12 ini berarti secara militer Indonesia merupakan negara paling kuat di Asia Tenggara. Negara terkuat kedua di Asia Tenggara ditempati Thailand yang secara global menempati peringkat ke-20, diikuti Vietnam (21), Singapura (26), Malaysia (35), Filipina (40), Myanmar (44), Kamboja (96), dan Laos (117). Sementara itu, lima negara dengan kekuatan militer terbawah dalam daftar ini adalah Libya, Zambia, Mali, Mozambik, dan Somalia. 



Top